Kajian Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Ajaran Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga memuat peringatan serius mengenai kondisi umat di akhir zaman. Salah satu peringatan yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an dan hadits adalah meluasnya kesesatan di tengah umat Islam itu sendiri. Kesesatan ini kerap tampil dalam bentuk yang halus, dibungkus dengan simbol agama, dan bahkan diklaim sebagai kebenaran.

Rasulullah ﷺ secara tegas menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi tersebut. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadits ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi umat bukan semata-mata tekanan dari luar, melainkan munculnya figur-figur berpengaruh yang menyampaikan ajaran agama tanpa landasan ilmu yang benar.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menggambarkan kondisi keislaman di akhir zaman secara lebih mendalam:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ، وَلَا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ

“Akan datang kepada manusia suatu masa, tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Al-Qur’an kecuali tulisannya.”
(HR. Al-Baihaqi)

Makna hadits ini bukanlah hilangnya syariat secara total, melainkan berkurangnya pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Identitas keagamaan tetap tampak, namun substansi akhlak, kejujuran, amanah, dan keadilan semakin tergerus.

Fenomena ini berkaitan erat dengan hilangnya ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya langsung dari manusia, tetapi dengan mewafatkan para ulama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika ulama yang berilmu dan amanah semakin berkurang, masyarakat berpotensi mengambil rujukan dari orang-orang yang tidak memiliki kapasitas keilmuan. Hal ini melahirkan fatwa dan pandangan agama yang keliru, namun disampaikan dengan penuh keyakinan.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan tentang bahaya kesesatan yang tidak disadari. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ۝ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amalnya? Yaitu orang-orang yang sia-sia amalnya dalam kehidupan dunia, sementara mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”
(QS. Al-Kahfi: 103–104)

Ayat ini menegaskan bahwa kesesatan paling berbahaya adalah kesalahan yang diyakini sebagai kebenaran. Dalam kondisi seperti ini, nasihat sering ditolak dan dialog sulit terbangun.

Rasulullah ﷺ juga menyampaikan bahwa kebenaran di akhir zaman tidak selalu populer:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing.”
(HR. Muslim)

Keasingan ini bukan berarti Islam hilang, tetapi nilai-nilai kebenaran sering kali bertentangan dengan arus mayoritas. Oleh karena itu, ukuran kebenaran dalam Islam tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, melainkan kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam menghadapi tantangan akhir zaman, umat Islam dituntut untuk meningkatkan kesadaran keilmuan, memperkuat sikap tabayyun, serta menghindari fanatisme terhadap tokoh dan kelompok. Kembali kepada ajaran Islam yang otentik dengan pendekatan akhlak dan hikmah menjadi kunci agar umat tetap berada di jalan yang lurus di tengah kompleksitas zaman.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Assalamia. 2025 Designed with WordPress