Kajian Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Bagi sebagian pembaca Al-Qur’an, terutama yang baru belajar, sering muncul pertanyaan sederhana namun mendasar: mengapa ada bacaan yang harus dipanjangkan? Mengapa pada ayat tertentu suara harus ditahan lebih lama, sementara pada ayat lain dibaca pendek?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sekadar teknis, melainkan menyentuh inti dari bagaimana Al-Qur’an diturunkan, dijaga, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Al-Qur’an Diturunkan untuk Dibaca, Bukan Sekadar Ditulis

Al-Qur’an pada hakikatnya adalah wahyu yang diturunkan secara lisan. Nabi Muhammad ﷺ menerima ayat-ayat Al-Qur’an melalui bacaan Malaikat Jibril, lalu menyampaikannya kepada para sahabat dengan lafaz dan cara baca yang jelas. Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya terdiri dari huruf dan kata, tetapi juga cara pengucapannya.

Panjang dan pendek bacaan merupakan bagian dari cara baca tersebut. Dalam ilmu tajwid, aturan ini dikenal dengan istilah mad, yaitu memanjangkan suara pada huruf-huruf tertentu sesuai ketentuan.

Panjang-Pendek Menentukan Makna

Dalam bahasa Arab, perbedaan panjang dan pendek bukan persoalan estetika semata. Ia dapat mengubah makna secara signifikan. Huruf yang dipanjangkan memiliki nilai bunyi yang berbeda dengan huruf yang dibaca pendek. Jika aturan ini diabaikan, makna ayat bisa menjadi rancu atau bahkan keliru.

Karena itu, bacaan yang dipanjangkan berfungsi sebagai penjaga makna. Ia memastikan bahwa pesan wahyu dipahami sebagaimana mestinya, tidak bergeser akibat kesalahan pelafalan.

Mengikuti Bacaan Rasulullah ﷺ

Cara membaca Al-Qur’an yang benar bersumber dari praktik Nabi Muhammad ﷺ. Para sahabat meriwayatkan bagaimana Rasulullah membaca ayat demi ayat, termasuk kapan beliau memanjangkan bacaan dan kapan membacanya pendek.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَمُدُّ مَدًّا
“Rasulullah ﷺ membaca dengan memanjangkan bacaan.”
(HR. Al-Bukhari)

Ilmu tajwid yang dipelajari umat Islam hingga hari ini pada dasarnya adalah upaya untuk meneladani bacaan Nabi, bukan menciptakan gaya baru. Oleh sebab itu, bacaan yang dipanjangkan bukan hasil improvisasi, melainkan bagian dari sunnah dalam membaca Al-Qur’an.

Ritme untuk Membaca dengan Tartil

Allah memerintahkan agar Al-Qur’an dibaca dengan tartil, yaitu perlahan, jelas, dan terukur. Perintah ini ditegaskan dalam firman-Nya:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan dan benar).”
(QS. Al-Muzzammil: 4)

Bacaan yang dipanjangkan membantu pembaca menjalankan perintah ini secara praktis. Ia mencegah bacaan yang tergesa-gesa dan memastikan setiap huruf dilafalkan sesuai haknya.

Dengan adanya aturan panjang-pendek, bacaan Al-Qur’an menjadi lebih teratur, mudah diikuti, dan nyaman didengar. Hal ini juga membantu pembaca mengatur napas dan menjaga kekhusyukan.

Standar Bacaan yang Menyatukan Umat

Salah satu keistimewaan Al-Qur’an adalah keseragaman bacaannya di seluruh dunia. Umat Islam dari berbagai bangsa dan bahasa membaca ayat yang sama dengan cara yang sama. Panjang-pendek bacaan menjadi bagian dari standar tersebut.

Allah sendiri menegaskan bahwa Al-Qur’an berada dalam penjagaan-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami pula yang menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Tanpa aturan bacaan yang baku, Al-Qur’an akan mudah dibaca berbeda-beda sesuai kebiasaan lokal. Dengan adanya mad dan kaidah tajwid lainnya, bacaan Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya sebagaimana diturunkan lebih dari empat belas abad lalu.

Lebih dari Sekadar Keindahan Suara

Memang tidak dapat dipungkiri, bacaan Al-Qur’an yang mematuhi aturan panjang-pendek terdengar indah. Namun keindahan ini bukan tujuan utama. Ia hadir sebagai dampak dari bacaan yang benar.

Panjang bacaan bukan untuk pamer suara atau memperindah lantunan semata, melainkan untuk menjaga amanah bacaan. Dengan membaca sesuai ketentuan, seorang Muslim menunjukkan adab dan penghormatan terhadap kalam Ilahi.

Demikianlah Bacaan Al-Qur’an yang dipanjangkan bukanlah tambahan manusia, melainkan bagian dari cara Allah menjaga wahyu-Nya. Ia berfungsi menjaga makna, meneladani bacaan Rasulullah ﷺ, mengatur ritme bacaan, dan menyatukan umat dalam satu standar yang sama.

Memahami alasan di balik panjang-pendek bacaan membantu umat Islam tidak sekadar membaca, tetapi juga menyadari bahwa setiap huruf Al-Qur’an memiliki hak untuk dilafalkan dengan benar. Di situlah letak penghormatan tertinggi terhadap kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Assalamia. 2025 Designed with WordPress