Dalam praktik ibadah umat Islam, shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah amalan yang dianjurkan. Namun, tidak semua rangkaian shalawat bisa dibaca begitu saja tanpa memahami makna dan konsekuensinya. Salah satu yang kontroversial adalah Salawat Nariah, yang populer dibaca untuk “memohon keselamatan, keberkahan, dan kemudahan”. Artikel ini membahas mengapa Salawat Nariah haram karena mengandung unsur syirik atau menyekutukan Allah dengan Nabi ﷺ.
1. Dasar Hukum Bershalawat
Bershalawat kepada Nabi ﷺ hukumnya sunnah muakkadah, bahkan dijanjikan pahala besar:
“Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR. Muslim)
Dalil Al-Qur’an juga menegaskan kewajiban shalawat dan salam untuk Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab [33]:56)
Namun, dalam semua dalil ini, Allah tetap menjadi satu-satunya pemberi keselamatan dan berkah. Nabi ﷺ hanyalah teladan, wasilah, dan objek pujian, bukan pemberi kuasa mutlak.
2. Bahaya Menyekutukan Allah dengan Nabi
Salawat Nariah menggunakan narasi yang mengandung makna bahwa Nabi ﷺ “memberi keselamatan, keberkahan, dan kemudahan” secara langsung. Secara teks akan dipahami ini sebagai kuasa Nabi sendiri, maka hal ini bertentangan dengan tauhid:
- Tauhid Rububiyah: Allah adalah satu-satunya penguasa alam semesta, pemberi rezeki, keselamatan, dan kebaikan. (QS. Al-Mu’minun [23]:84-88)
- Tauhid Uluhiyah: Hanya Allah yang layak disembah dan diminta pertolongan. Meminta keselamatan langsung kepada Nabi ﷺ adalah syirik jika diyakini Nabi memberi tanpa izin Allah.
Dalil yang menegaskan larangan menyekutukan Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa [4]:48)
Ini menunjukkan bahaya kesalahan pemahaman dalam doa dan shalawat.
3. Niat Benar Tidak Menutupi Makna Salah
Banyak orang membaca Salawat Nariah dengan niat mendapat keberkahan atau kemudahan hidup, namun tidak menyadari bahwa kata-kata dalam salawat Nariah menyesatkan mengandung pujian seharusnya hanya buat allah. Ulama menegaskan:
- Niat baik tidak menutupi makna yang salah.
- Bacaan yang mengandung kesan Nabi memberi keselamatan tanpa izin Allah tetap bermasalah dan haram.
Sebagai perbandingan, salawat yang diajarkan Nabi ﷺ seperti Salawat Ibrahimiyah tetap sahih dan aman, karena menegaskan Allah sebagai sumber berkah dan Nabi ﷺ sebagai teladan.
4. Solusi Aman
Untuk tetap mendapatkan keberkahan dari bershalawat tanpa risiko syirik:
- Gunakan shalawat sahih yang diajarkan Nabi, seperti:
- Salawat Ibrahimiyah: “Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad…”
- Shalawat Fatih: “…Pembuka yang tertutup dan Penutup yang telah lampau”
- Arahkan semua doa kepada Allah, Nabi ﷺ hanya sebagai teladan atau wasilah spiritual.
- Hindari membaca rangkaian salawat yang memberi kesan Nabi memiliki kuasa mutlak.
Daftar salawat sahih lengkap dengan teks Arab, latin, dan artinya yang bisa dibaca rutin tanpa risiko salah kaprah:
Amalkanlah Shalawat Berikut
Di antara shalawat yang dianjurkan yang dapat kita amalkan adalah:[1] Dari Zaid bin Abdullah berkata bahwa sesungguhnya mereka dianjurkan mengucapkan,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad an nabiyyil ummiyyi. [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi]” (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 60. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa hadits ini shohih)[2] Dari Ka’ab bin ‘Ujroh, beliau mengatakan,
“Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahu bagaimana kami mengucapkan salam padamu. Lalu bagaimana kami bershalawat padamu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah,
اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid” [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia] (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 56. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa sanad hadits ini shohih)[3] Dalam riwayat Bukhari no. 3370 terdapat lafazh shalawat sebagai berikut,
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid.” [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia]
Itulah bacaan shalawat yang dapat kita amalkan dan hendaknya kita mencukupkan diri dengan shalawat yang telah diajarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah kita mengamalkan shalawat yang sebenarnya tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi mengandung kesyirikan semacam shalawat nariyah.
💡 Prinsip Aman Membaca Salawat
- Selalu arahkan doa dan permohonan kepada Allah.
- Rasul ﷺ hanya sebagai teladan dan perantara spiritual, bukan pemberi mutlak.
- Bisa dibaca bebas kapan saja, sendiri atau dalam salat.


Leave a Reply