Kajian Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Di tengah kerasnya persaingan ekonomi, banyak orang tergoda mencari jalan pintas agar dagangannya laris. Salah satu fenomena yang masih marak adalah penggunaan penglaris, baik berupa benda-benda tertentu, ritual di tempat sunyi, hingga bacaan-bacaan khusus yang diarahkan bukan kepada Allah, tetapi kepada selain-Nya. Praktik ini sering dibungkus dengan dalih “ikhtiar”, “tradisi”, atau bahkan “tidak mengganggu siapa pun”. Padahal dalam Islam, persoalan ini menyentuh akar paling mendasar: akidah tauhid.

1. Rezeki dalam Islam: Hak Mutlak Allah

Islam menegaskan bahwa rezeki sepenuhnya berada di tangan Allah, bukan di tangan makhluk, jin, tempat keramat, atau benda apa pun.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 58)

Ayat ini menutup seluruh celah keyakinan bahwa ada pihak lain yang bisa “mengalirkan” rezeki selain Allah. Ketika seseorang menggantungkan kelarisan dagangan kepada penglaris, hakikatnya ia sedang memindahkan ketergantungan hati dari Allah kepada selain-Nya.

2. Penglaris dan Hakikat Syirik

Penglaris, baik dalam bentuk benda, ritual, atau bacaan yang disyaratkan oleh pihak tertentu, tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Bahkan, praktik tersebut masuk dalam kategori syirik apabila diyakini memberi manfaat secara mandiri atau menjadi perantara tanpa izin Allah.

Allah berfirman:

وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
“Dan Dia tidak mempersekutukan seorang pun dalam ketetapan-Nya.”
(QS. Al-Kahfi: 26)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barang siapa mendatangi dukun atau peramal lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
(HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Jika sekadar mendatangi dan membenarkan sudah berbahaya, apalagi menggantungkan penghidupan keluarga kepada praktik tersebut.

3. Ibadah Gugur Karena Syirik

Syirik bukan sekadar dosa biasa. Ia adalah dosa yang menghapus seluruh amal bila tidak ditaubati.

Allah berfirman:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika engkau berbuat syirik, niscaya gugurlah seluruh amalmu.”
(QS. Az-Zumar: 65)

Artinya, salat yang rajin, sedekah yang tampak dermawan, bahkan ibadah sosial lainnya tidak bernilai di sisi Allah apabila dibangun di atas kesyirikan. Inilah bahaya terbesar penglaris: bukan hanya merusak rezeki, tetapi menghancurkan pondasi iman.

4. Harta dari Penglaris: Haram dan Tidak Berkah

Harta yang diperoleh melalui cara syirik termasuk harta haram, bukan dari sisi bendanya, tetapi dari cara memperolehnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)

Harta seperti ini:

  • Tidak bernilai pahala saat disedekahkan
  • Tidak mensucikan jiwa
  • Tidak mendatangkan keberkahan
  • Menjadi sebab kerasnya hati dan rusaknya keluarga

Bahkan, ibadah besar seperti haji dan umrah yang dibiayai dari harta haram tidak bernilai di sisi Allah, meskipun secara fikih sah.

5. Bacaan Penglaris: Sama Berbahayanya

Sebagian orang berkilah, “Saya tidak pakai benda, hanya bacaan.” Namun jika bacaan tersebut:

  • Memiliki syarat khusus yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah
  • Diniatkan agar “pasti laris”
  • Diyakini bekerja secara otomatis

Maka hukumnya sama.

Allah menegaskan prinsip hidup seorang Muslim:

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An‘ām: 162)

Dagang adalah ibadah. Maka niat, cara, dan harapannya harus lillāh, bukan dunia semata.

6. Dampak Spiritual dan Psikologis

Praktik penglaris sering diikuti efek berantai:

  • Ketergantungan kepada selain Allah
  • Emosi tidak stabil
  • Rasa takut kehilangan “penjaga”
  • Mudah marah dan iri kepada pesaing

Kondisi ini membuka pintu gangguan jin dan sihir. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sesungguhnya marah itu dari setan.”
(HR. Ahmad)

Hati yang jauh dari tauhid menjadi rapuh dan mudah ditembus.

7. Pembeli Tidak Menanggung Dosa

Bagi pembeli yang tidak mengetahui praktik tersebut, tidak menanggung dosa, sebagaimana kaidah:

لَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
“Seseorang tidak memikul dosa orang lain.”
(QS. Al-An‘ām: 164)

Namun, iman yang kuat membuat seseorang tidak mudah terikat secara batin dengan makanan atau tempat yang penuh praktik batil.

8. Taubat dari Penglaris: Masihkah Ada Jalan?

Pintu taubat selalu terbuka, selama nyawa belum sampai tenggorokan.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas, jangan berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Namun taubat dari syirik harus total:

  • Meninggalkan praktik sepenuhnya
  • Memutus benda, bacaan, dan keyakinan
  • Memperbanyak istighfar
  • Mengikhlaskan akibat duniawi

Ujian pascataubat adalah sunnatullah. Allah ingin melihat kejujuran dan istiqamah.

9. Rezeki Sedikit tapi Berkah

Lebih baik rezeki sedikit namun halal dan berkah, daripada banyak tapi menghancurkan iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

قَلِيلٌ تُؤَدِّي شُكْرَهُ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ لَا تُطِيقُهُ
“Sedikit yang bisa kamu syukuri lebih baik daripada banyak yang membuatmu lalai.”
(Makna hadits shahih)

Penutup

Penglaris bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi masalah tauhid. Ia merusak hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, menghancurkan amal, dan menghilangkan keberkahan hidup.

Mari kembali kepada Allah. Cari rezeki dengan cara yang diridai-Nya. Karena tujuan hidup kita bukan sekadar laris, tetapi selamat di akhirat.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Semoga Allah menjaga kita dari syirik yang tampak maupun tersembunyi. Āmīn.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Assalamia. 2025 Designed with WordPress