Kajian Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Kritik terhadap pemimpin merupakan bagian dari dinamika masyarakat yang sehat. Dalam konteks demokrasi modern, kritik sering dipandang sebagai instrumen kontrol kekuasaan. Namun dalam Islam, kritik tidak semata-mata diposisikan sebagai hak politik, melainkan juga sebagai tanggung jawab moral dan keagamaan.

Islam tidak mengajarkan kepatuhan mutlak kepada pemimpin, tetapi juga tidak membenarkan tindakan anarkis atas nama perlawanan. Di sinilah Islam menawarkan pendekatan yang seimbang: tegas menolak kezaliman, namun tetap menjaga etika dan kemaslahatan.


Kezaliman sebagai Pelanggaran Prinsip Kepemimpinan

Dalam ajaran Islam, kepemimpinan dipandang sebagai amanah besar. Setiap bentuk kezaliman—baik berupa kebijakan yang merugikan rakyat, penyalahgunaan kekuasaan, maupun pengingkaran terhadap keadilan—dipandang sebagai pelanggaran terhadap amanah tersebut.

Al-Qur’an secara tegas melarang sikap mendukung atau membenarkan kezaliman:

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”
(QS. Hud: 113)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan keadilan sebagai fondasi utama dalam kehidupan sosial dan politik.


Kritik sebagai Bentuk Nasihat

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa nasihat merupakan inti dari ajaran Islam.

الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama itu adalah nasihat.”
(HR. Muslim)

Dalam penjelasan hadis tersebut, para pemimpin kaum muslimin disebut secara khusus sebagai pihak yang berhak dan membutuhkan nasihat. Ini menegaskan bahwa kritik terhadap penguasa bukanlah tindakan yang bertentangan dengan agama, selama dilakukan dalam koridor yang benar.


Mendahulukan Cara yang Etis dan Konstruktif

Islam menganjurkan agar kritik kepada pemimpin disampaikan dengan cara yang paling kecil mudaratnya dan paling besar peluang perbaikannya. Dalam kondisi ideal, nasihat dilakukan secara langsung dan tertutup, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk memperbaiki.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa ingin menasihati penguasa, maka janganlah ia melakukannya secara terang-terangan.”
(HR. Ahmad)

Prinsip ini menekankan bahwa kritik dalam Islam tidak berorientasi pada popularitas, tetapi pada efektivitas dan tanggung jawab moral.


Ruang Kritik Terbuka dalam Kondisi Tertentu

Meski demikian, Islam juga mengakui bahwa tidak semua situasi memungkinkan nasihat secara tertutup. Ketika kezaliman dilakukan secara terbuka, berdampak luas, dan tidak tersedia jalur komunikasi langsung, kritik terbuka dapat dibenarkan sebagai upaya menjaga kepentingan publik.

Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah ﷺ:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kritik dalam konteks ini dipahami sebagai bentuk keberanian moral, bukan tindakan provokatif.


Menjaga Etika dalam Menyampaikan Kritik

Islam memberikan rambu-rambu agar kritik tidak berubah menjadi cacian atau fitnah. Al-Qur’an mengingatkan agar seruan kebenaran disampaikan dengan hikmah dan nasihat yang baik.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
(QS. An-Nahl: 125)

Dengan demikian, kritik yang sesuai dengan nilai Islam harus berbasis fakta, proporsional, tidak menyerang aspek personal, serta berorientasi pada perbaikan kebijakan dan kesejahteraan masyarakat.


Menghindari Kerusakan yang Lebih Besar

Islam juga menempatkan stabilitas dan keselamatan masyarakat sebagai pertimbangan penting. Kritik terhadap penguasa tidak boleh menjadi pintu masuk bagi kekacauan sosial atau pertumpahan darah yang lebih luas.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa pemberontakan tidak dibenarkan kecuali dalam kondisi kekufuran yang nyata dan terbukti secara syar’i (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip ini menegaskan bahwa penolakan terhadap kezaliman harus tetap berada dalam kerangka kemaslahatan umum.


Demikianlah islam menawarkan pendekatan yang moderat dan bertanggung jawab dalam mengkritik pemimpin yang zalim. Keberanian menyampaikan kebenaran harus berjalan seiring dengan etika, kebijaksanaan, dan pertimbangan dampak sosial.

Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, nilai-nilai tersebut relevan untuk menjaga kritik tetap menjadi sarana perbaikan, bukan pemicu perpecahan. Dengan demikian, kritik tidak hanya menjadi ekspresi kebebasan, tetapi juga wujud tanggung jawab moral demi keadilan dan kemaslahatan bersama.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Assalamia. 2025 Designed with WordPress