Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah gambaran yang mengguncang cara manusia memandang bahagia dan sengsara. Pada Yaumul Qiyamah, Allah akan mendatangkan manusia yang paling bahagia hidupnya di dunia—hidupnya penuh tawa, harta, kemewahan, dan kenikmatan tanpa putus. Namun orang ini adalah calon penghuni neraka (ahlun nâr).
Lalu apa yang terjadi?
Orang ini dicelupkan ke neraka hanya satu celupan saja. Bukan lama. Bukan berhari-hari. Satu celupan. Setelah itu Allah bertanya kepadanya:
“Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?”
Jawabannya mencengangkan:
“Demi Allah, wahai Rabb-ku, aku tidak pernah merasakan kebaikan sedikit pun.”
Satu celupan neraka itu menghapus seluruh memori kebahagiaan dunia. Puluhan tahun hidup senang—hilang seperti file kena “delete permanent”. Dunia ternyata selemah itu.
Sebaliknya, Allah mendatangkan manusia yang paling sengsara hidupnya di dunia. Hidupnya penuh penderitaan, sakit, miskin, terhimpit masalah. Tapi dia adalah penghuni surga (ahlul jannah). Lalu ia dicelupkan ke surga satu celupan saja. Setelah itu Allah bertanya:
“Apakah engkau pernah merasakan kesusahan?”
Jawabannya:
“Demi Allah, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali.”
Satu celupan surga menghapus seluruh luka dunia. Tamat. Game over. Dunia tidak relevan lagi.
Dunia Itu Pendek, Jangan Dibikin Panjang di Hati
Inilah masalah utama manusia: membesarkan dunia yang Allah kecilkan.
Padahal Allah sendiri bahkan tidak menyebut detail kehidupan dunia dalam proses penciptaan manusia. Dalam Surah Al-Mu’minun, Allah menjelaskan:
- manusia diciptakan
- lalu hidup
- lalu mati
- lalu dibangkitkan
Fase dunia seperti dilewati sekilas saja. Seolah Allah berkata, “Ini cuma transit, jangan buka koper semua.”
Masalahnya, kita justru bikin dunia seperti tujuan akhir. Baru sakit sedikit, merasa paling menderita sedunia. Baru rugi sedikit, merasa hidup sudah tamat. Padahal Nabi ﷺ—manusia paling dicintai Allah—sakitnya dua kali lipat lebih berat dari manusia biasa.
Artinya apa?
👉 Ujian bukan tanda Allah benci.
👉 Kenikmatan bukan jaminan Allah ridha.
Ujian Itu Bisa Hadiah, Nikmat Bisa Perangkap
Rasulullah ﷺ menjelaskan:
Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, disegerakan balasan dosanya di dunia lewat ujian.
Tapi jika Allah menghendaki keburukan, dibiarkan hidupnya nyaman terus, dosanya ditahan, lalu dilunasi di akhirat. Dan itu jauh lebih berat.
Makanya para ulama salaf dulu takut jika hidupnya terlalu mulus.
Sebaliknya, mereka bersyukur saat diuji, karena tahu: “Ini pengurang beban nanti.”
Logikanya sederhana:
- Dunia maksimal 60–70 tahun
- Akhirat abadi
Kalau ada penderitaan sebentar yang menukar siksa kekal, itu bukan musibah—itu diskon besar-besaran.
Bahagia Itu Soal Akhir, Bukan Proses
Iman kepada takdir mengajarkan satu hal penting:
yang terasa buruk belum tentu buruk, yang terasa enak belum tentu baik.
Allah Maha Tahu, kita tidak.
Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan level tertinggi iman:
bukan hanya sabar saat diuji, tapi bersyukur dalam segala keadaan.
Dunia ini cuma satu pijakan kaki sebelum loncat ke akhirat.
Satu celupan saja sudah cukup membuat manusia lupa segalanya.
Maka jangan tertipu.
Jangan silau.
Jangan patah.
Kalau hari ini berat, ingat:
bisa jadi Allah sedang meringankan hari yang jauh lebih panjang.
Dan itu… deal yang sangat masuk akal.


Leave a Reply