Kajian Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Setiap pergantian tahun, sebagian kaum Muslim ikut larut dalam euforia perayaan tahun baru: meniup terompet, pesta kembang api, hura-hura hingga larut malam. Aktivitas ini sering dianggap “sekadar budaya” atau “tidak ada unsur ibadah”. Namun dalam Islam, sebuah perbuatan tidak dinilai hanya dari niat, tapi juga dari asal-usul, bentuk, dan dampaknya.

Pertanyaannya sederhana tapi fundamental: apakah merayakan tahun baru dibenarkan dalam Islam? Ataukah justru termasuk perkara yang dilarang?


Asal-Usul Perayaan Tahun Baru

Perayaan tahun baru bukan tradisi Islam. Ia berasal dari peradaban Romawi dan kemudian berkembang dalam budaya Barat sekuler. Tahun baru Masehi berkaitan langsung dengan kalender Gregorian, yang akarnya tidak lepas dari sejarah Nasrani dan peradaban non-Islam.

Islam sendiri memiliki sistem penanggalan yang jelas dan mandiri, yaitu kalender Hijriah, yang dimulai dari peristiwa hijrah Nabi ﷺ—sebuah momentum perjuangan, bukan pesta.


Islam Hanya Mengakui Dua Hari Raya

Dalil paling tegas tentang batasan perayaan dalam Islam adalah hadis sahih berikut:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: قَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, penduduknya memiliki dua hari yang biasa mereka rayakan. Beliau bersabda: Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.”
(HR. Abu Dawud, An-Nasa’i – sahih)

Hadis ini menunjukkan prinsip penting: Islam tidak menambah hari raya selain yang telah ditetapkan syariat. Maka menetapkan perayaan rutin tahunan di luar itu—termasuk tahun baru—tidak memiliki landasan syar’i.


Larangan Tasyabbuh (Menyerupai Kaum Non-Muslim)

Merayakan tahun baru juga masuk dalam larangan tasyabbuh, yaitu menyerupai kebiasaan khas kaum non-Muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud, hasan)

Perayaan tahun baru dengan simbol, waktu, dan tradisi yang identik dengan budaya non-Islam jelas termasuk dalam kategori ini, terlebih jika dilakukan dengan bangga dan rutin.


Identitas Muslim Harus Dijaga

Islam sangat menekankan kejelasan identitas. Allah ﷻ berfirman:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 120)

Ayat ini bukan ajakan konflik, tapi peringatan agar umat Islam tidak larut dalam arus budaya yang mengikis jati diri.


Dampak Nyata Perayaan Tahun Baru

Selain aspek akidah, fakta sosial juga tidak bisa diabaikan. Perayaan tahun baru hampir selalu diiringi dengan:

  • Ikhtilat (campur baur bebas laki-laki dan perempuan)
  • Musik dan hura-hura berlebihan
  • Minuman keras
  • Begadang tanpa manfaat
  • Kelalaian dari shalat dan dzikir

Allah ﷻ mengingatkan:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Di antara manusia ada yang mempergunakan perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan dari jalan Allah.”
(QS. Luqman: 6)


Bagaimana Sikap Muslim yang Benar?

Islam tidak melarang refleksi atau muhasabah. Justru itu dianjurkan. Namun muhasabah berbeda dengan perayaan.

Sikap yang benar saat pergantian tahun:

  • Introspeksi diri dan taubat
  • Memperbaiki shalat dan ibadah
  • Menyusun target amal, bukan target pesta
  • Menghidupkan malam dengan doa, bukan kembang api

Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata:

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”


Maka dapat kita pahami merayakan tahun baru bukan sekadar persoalan budaya, tetapi persoalan prinsip dan identitas keimanan. Islam telah sempurna dengan aturannya sendiri, hari rayanya sendiri, dan nilai hidupnya sendiri.

Muslim yang cerdas tidak ikut arus hanya karena “semua orang melakukannya”. Ia bertanya: apa dalilnya? apa manfaatnya? dan ke mana arah hidup ini dibawa?

Menjadi berbeda karena iman memang tidak selalu populer. Tapi justru di situlah kemuliaannya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Assalamia. 2025 Designed with WordPress