Pernahkah seseorang merasa dosanya terlalu besar hingga pintu ampunan seolah tertutup? Islam justru mengajarkan sebaliknya: sebesar apa pun dosa seorang hamba, rahmat Allah selalu lebih luas selama ia mau kembali. Untuk menjawab kegelisahan itu, Rasulullah ﷺ menyampaikan sebuah kisah nyata dari umat terdahulu, bukan sekadar nasihat, melainkan pelajaran hidup yang mengguncang hati—tentang seorang pembunuh yang telah menghabisi seratus nyawa, namun tetap mendapatkan ampunan Allah karena kejujuran taubat dan keberanian mengubah arah hidupnya.
🕌 Teks Arab (Lengkap)
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
كَانَ فِي مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا. فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً.
ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ، فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوءٍ.
فَانْطَلَقَ، حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقِ أَتَاهُ الْمَوْتُ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ.
فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ.
وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ.
فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ، فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ، فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ، فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَقْرَبَ فَهُوَ لَهُ.
فَقَاسُوا، فَوَجَدُوهُ أَقْرَبَ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ، فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ.
📚 HR. Muslim no. 2766
(Juga diriwayatkan oleh Bukhari dengan redaksi lebih ringkas)
📖 Terjemahan Bahasa Indonesia (Lengkap & Setia Makna)
Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dahulu, pada umat sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang.
Ia bertanya tentang orang yang paling berilmu di muka bumi. Maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah).
Ia mendatanginya dan berkata, ‘Aku telah membunuh 99 orang. Apakah masih ada taubat bagiku?’
Rahib itu menjawab, ‘Tidak ada.’
Maka orang itu membunuhnya, sehingga genaplah 100 orang yang ia bunuh.
Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling berilmu di muka bumi. Ia ditunjukkan kepada seorang ulama.
Ia berkata, ‘Aku telah membunuh 100 orang. Apakah masih ada taubat bagiku?’
Ulama itu menjawab, ‘Ya. Siapa yang bisa menghalangi taubatmu? Pergilah ke negeri anu dan anu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu, karena itu adalah negeri yang buruk.’
Maka ia pun berangkat.
Ketika ia berada di tengah perjalanan, kematian menjemputnya.
Lalu malaikat rahmat dan malaikat azab saling berselisih tentang dirinya.
Malaikat rahmat berkata, ‘Ia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah.’
Malaikat azab berkata, ‘Ia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali.’
Lalu datanglah seorang malaikat dalam rupa manusia, dan mereka menjadikannya sebagai penengah.
Malaikat itu berkata, ‘Ukurlah jarak antara dua negeri itu. Ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia termasuk penduduknya.’
Maka diukur, dan ternyata ia lebih dekat ke negeri yang ia tuju (negeri orang-orang saleh).
Maka malaikat rahmat pun mengambil ruhnya.”
Syarat Taubat Nasuha
1️⃣ Menyesali dosa yang telah dilakukan
Penyesalan ini muncul dari hati, bukan sekadar takut azab.
Rasulullah ﷺ bersabda:
النَّدَمُ تَوْبَةٌ
“Penyesalan itu adalah taubat.”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah – hasan)
Kalau belum menyesal, itu baru sadar — belum taubat.
2️⃣ Berhenti dari dosa tersebut saat itu juga
Taubat tidak sah kalau dosanya masih jalan terus.
Taubat tapi masih sengaja maksiat, itu bukan kembali—itu negosiasi.
3️⃣ Bertekad kuat tidak mengulangi lagi
Bukan janji sok suci, tapi komitmen serius.
Kalau suatu saat tergelincir lagi tanpa sengaja, taubatnya tetap sah—asal bukan direncanakan dari awal.
4️⃣ Mengembalikan hak manusia (jika berkaitan)
Kalau dosanya menyangkut orang lain:
- Harta → dikembalikan
- Fitnah → diluruskan
- Zalim → minta maaf
Allah Maha Pengampun, tapi hak manusia tidak gugur tanpa diselesaikan.
5️⃣ Dilakukan sebelum pintu taubat tertutup
Yaitu:
- Sebelum ajal tiba
- Sebelum matahari terbit dari barat
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.”
(HR. Tirmidzi – hasan shahih)
Catatan Penting (Sering Terlewat)
- Hadits ini dalil paling kuat bahwa:
- Taubat tidak gugur karena dosa besar
- Hijrah lingkungan adalah bagian dari taubat
- Allah menilai arah dan niat, bukan sekadar masa lalu


Leave a Reply