Keadilan adalah salah satu nilai paling agung dalam Islam. Ia bukan hanya prinsip hukum, tetapi fondasi akhlak, sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Islam tidak lahir di ruang hampa; ia turun di tengah masyarakat yang penuh ketimpangan, penindasan, dan diskriminasi. Maka wajar jika keadilan menjadi jantung ajaran Islam.
Namun, di zaman modern, konsep keadilan sering disalahpahami. Ada yang mengira adil itu berarti sama rata. Ada pula yang menjadikan keadilan sebagai alat untuk membenarkan kepentingan pribadi. Islam hadir dengan definisi yang jauh lebih dalam: menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai hak dan kewajibannya.
Makna Keadilan dalam Islam
Secara bahasa, keadilan berasal dari kata ‘adl (العدل) yang berarti lurus, seimbang, dan tidak menyimpang. Dalam istilah syariat, keadilan berarti memberikan hak kepada yang berhak dan menahan diri dari kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.
Allah tidak memerintahkan keadilan karena Dia membutuhkan, melainkan karena manusia akan rusak tanpanya. Ketika keadilan hilang, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya menginjak yang miskin, dan yang berkuasa lupa diri.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan…”
(QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini sering dibaca di mimbar Jumat, bukan tanpa alasan. Ia adalah ringkasan moral Islam: adil dulu, baru ihsan. Tanpa keadilan, ihsan bisa berubah jadi pencitraan.
Keadilan sebagai Perintah Universal
Islam memerintahkan keadilan kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang tidak kita sukai. Ini level keadilan yang tinggi, dan jujur saja—tidak mudah.
Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Perhatikan kalimatnya: adil itu lebih dekat kepada takwa. Artinya, seseorang bisa rajin ibadah, tetapi jika masih zalim, takwanya dipertanyakan. Islam tidak mengenal kesalehan yang menindas.
Keadilan terhadap Diri Sendiri
Banyak orang sibuk menuntut keadilan dari orang lain, tetapi lupa adil pada diri sendiri. Dalam Islam, menzalimi diri sendiri adalah dosa besar—termasuk memaksakan diri di luar kemampuan, merusak tubuh, atau terus hidup dalam dosa sambil menipu hati.
Allah berfirman:
وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Dan Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. An-Nahl: 33)
Adil pada diri sendiri berarti mengenali batas, menjaga amanah tubuh, akal, dan waktu. Islam tidak mengajarkan ekstrem—baik dalam ibadah maupun dalam dunia.
Keadilan dalam Hukum dan Sosial
Salah satu bukti keagungan Islam adalah ketegasan Nabi ﷺ dalam menegakkan keadilan, bahkan jika yang bersalah adalah orang terdekat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini bukan soal hukuman fisik semata, tetapi pesan moral: hukum tidak boleh tunduk pada status, keluarga, atau kekuasaan. Ketika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, saat itulah keadilan mati.
Keadilan dalam Keluarga
Islam juga menekankan keadilan dalam lingkup terkecil: keluarga. Orang tua dituntut adil kepada anak-anaknya, baik dalam kasih sayang maupun pemberian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anak kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketidakadilan dalam keluarga sering melahirkan luka panjang, bahkan hingga dewasa. Islam ingin rumah tangga menjadi sekolah keadilan pertama bagi manusia.
Keadilan dalam Ekonomi dan Harta
Islam sangat tegas dalam keadilan ekonomi. Riba diharamkan karena menindas. Zakat diwajibkan karena ada hak orang lain dalam harta kita. Penipuan, kecurangan timbangan, dan monopoli dilarang karena merusak keseimbangan.
Allah berfirman:
وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ
“Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca.”
(QS. Ar-Rahman: 9)
Dalam Islam, harta bukan hanya soal halal-haram, tetapi juga soal adil-tidak adil. Kaya dari keringat orang lain bukan prestasi—itu kezaliman yang dibungkus sukses.
Menyikapi Ketidakadilan dengan Bijak
Pertanyaannya: bagaimana sikap seorang Muslim saat melihat ketidakadilan?
Islam mengajarkan tiga lapisan sikap:
- Mencegah dengan kekuasaan jika mampu
- Menyuarakan dengan lisan jika mampu
- Membenci dalam hati jika tidak mampu
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَىٰ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ…
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya…”
(HR. Muslim)
Namun Islam juga mengajarkan hikmah. Tidak semua ketidakadilan bisa dilawan dengan emosi. Ada saatnya bersabar, ada saatnya bersuara, dan ada saatnya menata diri sambil menunggu waktu.
Keadilan dan Akhir Zaman
Di akhir zaman, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa keadilan akan semakin langka. Yang jujur dianggap aneh, yang zalim dianggap normal. Namun justru di masa seperti itulah nilai keadilan menjadi mahal.
Rasulullah ﷺ bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ… إِمَامٌ عَادِلٌ
“Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah… salah satunya adalah pemimpin yang adil.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya jelas: keadilan adalah tiket langit, bukan sekadar etika sosial.
Demikianlah menyikapi keadilan dalam Islam bukan soal teori, tetapi keberanian moral. Adil saat menguntungkan itu mudah. Adil saat merugikan—itulah ujian iman.
Islam tidak meminta kita sempurna, tetapi jujur dan berusaha. Keadilan mungkin terasa berat, tetapi tanpa keadilan, iman hanya tinggal simbol.
Dan kabar baiknya: setiap langkah kecil menuju keadilan, dicatat sebagai ibadah. Bahkan saat dunia tidak adil kepada kita, Allah tetap Maha Adil—dan tidak pernah salah hitung.


Leave a Reply