Kajian Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Dalam berbagai kajian Islam, salah satu hadits yang paling sering dibicarakan—sekaligus paling sering disalahpahami—adalah hadits tentang umat Islam terpecah menjadi 73 golongan. Dari jumlah itu, 72 golongan disebut sesat, dan hanya satu yang selamat.

Di akhir zaman, hadits ini terasa semakin relevan. Bukan karena jumlah golongan bertambah, tapi karena setiap golongan merasa paling benar, paling sunnah, paling lurus, dan paling “ahlul jannah”. Ironisnya, rasa paling benar itu justru sering menjadi pintu kesesatan.

Hadits tentang 73 Golongan

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً

“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu.”

Para sahabat bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.”
(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Hadits ini bukan alat klaim kebenaran, tapi peringatan keras. Rasulullah ﷺ tidak sedang memberi lisensi “kami paling selamat”, melainkan mengingatkan bahayanya penyimpangan dari manhaj beliau dan para sahabat.


Makna “Sesat” yang Sering Disalahpahami

Banyak orang langsung membayangkan “72 golongan sesat” sebagai kelompok ekstrem yang jelas-jelas menyimpang. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa kesesatan tidak selalu berarti nyata keluar dari Islam.

Ada perbedaan antara:

  • Sesat dalam akidah
  • Sesat dalam manhaj
  • Sesat dalam pemahaman
  • Sesat dalam sikap dan perilaku

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa sebagian golongan masih muslim, namun menyimpang dari kebenaran yang murni. Artinya, hadits ini bukan vonis neraka kekal, melainkan peringatan tentang jalan yang berbahaya.

Jadi jangan buru-buru menunjuk orang lain sambil berkata, “Itu golongan neraka.” Bisa-bisa… jari kita yang kepanasan duluan.


Akhir Zaman: Ketika Kebenaran Terlihat Asing

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing.”
(HR. Muslim)

Di akhir zaman:

  • Yang lurus dianggap keras
  • Yang menyimpang dianggap moderat
  • Yang bid’ah dibilang kreatif
  • Yang sunnah dibilang kuno

Ini sebabnya banyak orang tersesat bukan karena niat buruk, tapi karena merasa sudah benar.


Siapa Golongan yang Selamat?

Jawaban Rasulullah ﷺ sangat sederhana, tapi pelaksanaannya berat:

“Yang mengikuti aku dan para sahabatku.”

Artinya:

  1. Berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah
  2. Memahami agama dengan pemahaman sahabat
  3. Tidak menambah-nambah agama
  4. Tidak mengurangi ajaran
  5. Tidak mengikuti hawa nafsu dengan dalil

Golongan yang selamat bukan ditentukan oleh nama organisasi, mazhab, pakaian, atau label tertentu. Tapi oleh kesetiaan pada manhaj Nabi ﷺ dan para sahabat.


Ciri Golongan Sesat di Akhir Zaman

Tanpa menyebut nama kelompok, Al-Qur’an dan Sunnah memberi pola umum:

1. Mengutamakan Akal di Atas Wahyu

Jika ayat dan hadits tidak cocok dengan logika, maka wahyu yang “ditafsir ulang”. Ini bahaya klasik yang selalu muncul di akhir zaman.

2. Beragama dengan Emosi, Bukan Ilmu

Semangat tinggi, tapi dalil tipis. Mudah marah, mudah mengkafirkan, mudah membenci—padahal ilmunya setipis tisu basah.

3. Menghalalkan yang Haram, Mengharamkan yang Halal

Atas nama toleransi, konteks zaman, atau “cinta”, hukum Allah dilunakkan sesuka hati.

4. Fanatik Golongan

Bukan lagi “Islam berkata apa”, tapi “ustadz saya bilang apa”. Kalau dalil bertabrakan dengan tokoh, dalilnya yang disingkirkan.


Mengapa Perpecahan Semakin Parah di Akhir Zaman?

Jawabannya sederhana tapi pedih:

  • Ilmu sedikit
  • Guru banyak
  • Konten agama jadi hiburan
  • Viral lebih penting dari valid

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ

“Allah tidak mencabut ilmu sekaligus, tapi dengan mewafatkan para ulama.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Ketika ulama berkurang, yang berbicara soal agama bukan lagi yang paling berilmu, tapi yang paling lantang.


Sikap yang Benar Menghadapi 73 Golongan

Islam tidak mengajarkan paranoia, tapi kewaspadaan.

1. Fokus Memperbaiki Diri

Jangan sibuk menghitung 72 golongan sesat, tapi lupa bertanya: “Aku sudah lurus belum?”

2. Ukur Semua dengan Dalil

Bukan dengan perasaan, mayoritas, atau popularitas.

3. Rendah Hati dalam Beragama

Golongan selamat bukan yang paling teriak “kami benar”, tapi yang paling takut salah di hadapan Allah.

4. Berdoa Agar Ditetapkan di Atas Kebenaran

Rasulullah ﷺ sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. Tirmidzi)

Kalau Nabi saja berdoa begitu, apalagi kita.


Demikian di akhir zaman, menjadi golongan yang selamat bukan perkara klaim, tapi perjuangan seumur hidup. Bukan soal kita berada di kelompok mana, tapi apakah kita mau terus kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah ketika salah.

Ingat satu hal penting:
👉 72 golongan sesat itu bukan untuk dibenci, tapi dijadikan cermin agar kita tidak mengikuti jalannya.

Semoga Allah menjaga kita dari kesesatan yang terasa benar, dan memberi kita hidayah untuk istiqamah sampai akhir hayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Assalamia. 2025 Designed with WordPress